Rabu, 11 Juni 2008

Menikah

Menikah!!!!!!
Bagi sebagian orang adalah sesuatu yang menakutkan, bagiku juga. Apalagi saat mendekati hari H, semakin ragu saja dan malah semakin gak yakin. Satu pertanyaan dalam otakku adalah mampu tidak aku membahagiakannya? Mampu tidak aku menerima segala kekurangan dan kelebihannya? Mampu tidak aku tetap setia padanya dengan begitu banyak godaan dan wanita cantik di dunia ini? Kedua kakakku dulu saat mau menikah juga gitu, malah kakak pertama mau membatalkan. Kalau aku terus terang aja pusing buanget, tapi berusaha gak mikirin aja.

Tapi bagi sebagian orang juga adalah saat yang membahagiakan, saat yang sangat ditunggu-tunggu. Ada rasa deg2 ser gitu kali yaaaa.....

Akhirnya aku menikah juga, ini lhooo photonya,





Lega juga aku, akhirnya menikah juga di umur 28 tahun, dah tua looooch. Saat ini hari-hariku aku habiskan banyak berdua saja dengan istriku, ternyata indah sekali menikah, banyak enaknya bila dibanding enggak enaknya. Banyak sekali hal2 yang aku takutkan dulu ternyata gak ada sama sekali, memang sering kali kita takut dengan bayangan kita sendiri dalam arti takut hal2 yang belum terjadi dan takut dengan angan-angan kita. Semoga aja yang belum menikah segera menikah dech, banyak enaknya kok, klo gak enak berarti kamu salah pilih istri.... he heeee

Selasa, 03 Juni 2008

Istriku



Ini istriku

PERENCANAAN SYNTHESIZER FREQUENCY HOPPING (SFH)

Ketika kebutuhan akan alat komunikasi yang tidak dibatasi tempat mulai dibutuhkan hingga saat ini, pada saat itulah para insinyur telekomunikasi membuat standardisasi yang kemudian kita kenal dengan nama Global System for Mobile Communications (GSM). Sistem komunikasi bergerak dari Eropa ini juga digunakan di Asia dan Afrika. Tentunya kita mengetahui bahwa pertumbuhan pelanggan menjadi sangat pesat dan hal ini memicu munculnya operator–operator baru.
Banyaknya operator-operator tersebut akan menimbulkan persaingan pasar sehingga berkaitan erat dengan kapasitas jaringan dan kualitas pelayanan. Kedua unsur tersebut sangat bergantung pada penggunaan spektrum radio yang digunakan secara efisien. Penggunaan spektrum radio itu memakai teknik transmisi yang dikenal dalam sistem GSM yaitu Frequency Division Multiple Access (FDMA) dan Time Division Multiple Access (TDMA). Bandwidth yang tersedia dipisahkan ke dalam frekuensi (FDMA), sedangkan waktu (time horizon) dibagi ke dalam 8 time slot. Tiap-tiap time slot digunakan untuk memegang panggilan atau call dari satu pelanggan (TDMA). Bandwith yang tersedia terbatas untuk tiap operator jaringan. Hal inilah yang memungkinkan sejumlah pelanggan bergerak akan menggunakan frekuensi yang sama atau frekuensi yang berdekatan sehingga menghasilkan co-channel interference dan adjacent channel interference. Level interferensi tersebut tergantung pada konfigurasi jaringan, jumlah transceiver, lokasi, transmission power dan konfigurasi antena. Hal-hal tersebut juga bergantung pada posisi dari mobile user dalam jaringan.
Agar penggunaan spektrum radio dapat menjadi efisien, maka ada metode pengalokasian frekuensi pada transceiver sehingga dapat meminimalkan interferensi. Akan tetapi, metode itu kurang efektif karena terbatas ketika teraplikasi pada jaringan yang penuh yang disebabkan alokasi frekuensi yang disediakan bersifat statis. Ketika dua mobile subscriber secara serempak dialokasikan interferensi frekuensinya, sisa interferensi selama komunikasi dari kedua mobile subscriber tersebut tetap aktif, selama frekuensi-frekuensi dimana terdapat adanya jaringan telekomunikasi tidak berubah. Oleh karena itu, frekuensi yang ada jangan dibuat tetap atau statis tetapi bergerak terus secara berkelanjutan baik itu di base station dalam satu sel maupun antar sel-sel lainnya, teknik ini dikenal sebagai frequency hopping. Frequency hopping adalah fitur dalam GSM yang dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah tersebut melalui frequence diversity dan interference diversity. Kedua usaha tersebut dapat memperbaiki signal to noise ratio (SNR) dalam link sehingga berlanjut ke dalam peningkatan kualitas voice dan pencegahan call drop pada GSM
Tersedianya spektrum frekuensi adalah sumber yang terbatas dalam sistem telekomunikasi. Pada jaringan GSM, frekuensi re-use telah menjadi alat dasar untuk mengoptimasikan pengaturan spektrum. Namun metode itu terkadang tidak cukup begitu saja untuk jaringan yang penuh (congested). Metode frekuensi re-use mempunyai alokasi frekuensi yang bersifat statis atau tetap sehingga masih terdapatnya sisa interferensi antar pengguna. Bila tidak dirancang dengan baik dapat menimbulkan interferensi yang merupakan masalah utama dalam sistem seluler. Interferensi yang terjadi dalam hal ini yaitu penggunaan frekuensi yang sama disebut interferensi co-channel. Frequency hopping merupakan metode yang dapat memperluas ketersediaan kapasitas jaringan bergerak, atau untuk memperbaiki kualitas pelayanan melalui interference diversity dan frequence diversity.

Sistem Global System for Mobile communication (GSM)
Sejak 1980, sistem telepon seluler analog tumbuh sangat cepat di Eropa tidak hanya di Skandinavia dan Inggris tetapi juga di Prancis dan Jerman. Tiap negara mengembangkan sistemnya masing-masing sehingga tidak kompatibel satu sama lain baik pada perangkat maupun sistemnya. Situasi itu tidak menguntungkan karena tidak hanya perangkat yang beroperasi terbatas tetapi juga menjadikan pasar dari perangkat tersebut menjadi sangat terbatas.
Pada tahun 1982, Conferensi Europeenne des Postes et Telecominications (CEPT) membentuk kelompok studi yang dinamakan Groupe Spécial Mobile (GSM) untuk mempelajari dan mengembangkan sistem komunikasi publik di Eropa. Sistem tersebut harus memenuhi kriteria :
- Memiliki kualitas suara yang baik.
- Biaya pelayanan dan perangkat murah.
- Mendukung untuk roaming internasional.
- Mampu untuk mendukung terminal bergerak.
- Mendukung untuk dilakukannya pengembangan pelayanan dan fasilitas.
- Efisien dalam pemakaian spektrum frekuensi.
- Kompatibel dengan ISDN.
Sistem GSM menggunakan prinsip penggunaan kembali frekuensi (frekuensi reuse), hal ini dapat membuat efisien pemakaian spektrum frekuensi. Pada tahun 1989, pertanggung jawaban GSM diberikan kepada European Telecomunication Standard Institute ( ETSI ), dan pada tahun 1990 fase 1 dari GSM dipublikasikan. Layanan komersial dimulai pada pertengahan 1991, dan pada tahun 1993 terdapat 36 jaringan GSM di 22 negara. Meskipun distandarisasi di Eropa, GSM tidak hanya digunakan di Eropa. Lebih dari 200 jaringan GSM (termasuk DCS1800 dan PCS1900) dioperasikan di 110 negara di seluruh dunia.

SISTEM JARINGAN GSM
Jaringan GSM terbagi menjadi 3 sistem utama. Tiap sistem terdiri dari sejumlah unit fungsional dari jaringan komunikasi bergerak. Tiga sistem tersebut adalah :
1. Switching system (SS)
2. Base station system (BSS)
3. Operation Support System (OSS)

AUC : Authentication Center
BSC : Base Station Controller
BTS : Base Transceiver Station
EIR : Equipment Identity Register
MS : Mobile Station
HLR : Home Location Register
MSC : Mobile Service Switching Center
OSS : Operation Support System
VLR : Visitor Location Register
MXE : Message Centre
MSN : Mobile Service Node
GIWU : GSM Interworking Unit
TCSM : Trancoder and Submultiplexer

Switching System
Switching Sistem bertanggung jawab terhadap kinerja proses panggilan dan fungsi subscriber yang berhubungan. Itu termasuk unit-unit fungsional sebagai berikut :

1. Mobile Switching Center (MSC)
MSC berperan sebagai switching node dari PSTN dan ISDN, dan menyediakan semua fungsi yang dibutuhkan untuk melayani pelanggan seperti registrasi, authentication, locating updating, handovers, dan call routing subscriber. MSC menyediakan koneksi ke Public Fixed Network (PSTN atau ISDN). Pada MSC terdapat Home Location Register (HLR) dan Visitor Location Register (VLR) yang berfungsi menyediakan call routing dan kemampuan roaming dari GSM.

2. Home Location Register (HLR)
HLR adalah jaringan database tersentral yang menyimpan dan mengatur semua mobile subscription yang dimiliki operator tertentu. HLR bekerja sebagai penyimpanan permanent untuk informasi subscription seseorang sampai subscription itu dicancel. Informasi yang disimpan meliputi :
- Subscriber identity.
- Subscriber supplementary services.
- Subscriber location information.
- Subscriber authentication information.
HLR dapat diimplementasikan pada jaringan node yang sama sebagai MSC atau sebagai database yang berdiri sendiri. Jika kapasitas HLR penuh, maka HLRs dapat ditambahkan.

3. Visitor Location Register (VLR)
VLR mengandung informasi tentang semua mobile subscriber yang terletak dalam service area MSC. Oleh karena itu ada satu VLR untuk setiap MSC dalam jaringan. VLR menyimpan sementara informasi subscription sehingga MSC dapat melayani semua pengguna. Ketika berpindah kedalam service area MSC, VLR menghubungkan informasi permintaan ke MSC tentang pengguna dari HLR si pengguna. HLR mengirim copyan informasi ke VLR dan memperbaharui/mengupdate lokasi informasinya sendiri. Ketika pengguna melakukan panggilan,VLR sudah mempunyai informasi yang diminta untuk call-setup.

4. Authentication Center (AUC)
AUC berfungsi untuk mengautentifikasi pengguna-pengguna menggunakan sebuah jaringan. Dalam hal ini AUC digunakan untuk melindungi operator-operator jaringan dari pencurian. AUC adalah database yang terhubung ke HLR yang menyediakan parameter-parameter authentication dan ciphering keys untuk menjamin keamanan jaringan.

5. Equipment Identity Register (EIR)
EIR adalah database yang mengandung informasi resmi dari handset (handphone) di jaringan. EIR membantu untuk menghalangi panggilan dari pencurian, tidak adanya perizinan, atau defective MSs.

Base Station System

Base Station System terdiri dari unit-unit:
1. Base Transceiver Station ( BTS )
2. Base Station Controller ( BSC )

Fungsi utama BSS adalah melakukan koneksi antara MS dan NSS melalui media radio interface. BSS juga mengendalikan sistem interface radio seluler dan link transmisi antara elemen-elemen di sub sistem BSS. Komponen-komponen yang berlainan supplier dapat saling berkomunikasi melalui bus interface.

1. Base Transceiver Station (BTS)
Pada base transceiver terdapat radio transceiver yang menentukan cell dan menangani radion link protocol dengan mobile station. Pada urban area yang luas sangat mungkin terdapat banyak BTS. Persyaratan BTS adalah reliability, minimum cost dan kuat. BTS berfungsi untuk:

a. Timing Broadcast Control Channel (BCCH) dan Common Control Channel (CCCH).
b. Meneruskan data measurement MS dan BTS ke BSC.
c. Mengawasi sinkronisasi antara MS dan BTS.
d. Mendeteksi Random Access Channel (RACH) dari MS.
e. Mengendalikan Rate Adaption.
f. Mengendalikan channel coding dan decoding pada sisi radio.
g. Mengendalikan interleaving dan deinterleaving pada sisi radio.
h. Mengendalikan encryption dan decryption pada sisi radio.
i. Melakukan kinerja frequency hopping.
j. Mengendalikan modulasi Gaussian Minimum Shift Keying (GMSK) pada sisi radio.
k. Mengendalikan Transmitter (Tx) RF seperti signal combining.
l. Mengendalikan Receiving (Rx) RF seperti signal filtering,amplying, dan multi coupling.
m. Merupakan Interface BSC atau MS.

2. Base Station Controller (BSC)
BSC menangani radio resource untuk satu atau lebih BTS. BSC menangani radio channel set up, frequency hopping, dan hand overs. BSC menghubungkan mobile phone dengan Mobile Service Switching Center (MSC) dan mengkonversikan 13 Kbps standar channel yang biasa digunakan pada Public Switched Telephone Network (PSTN) atau ISDN.

Operation Support System (OSS)
OSS digunakan untuk memantau dan memonitor jaringan GSM seperti alarm yang ada, performansi statistic, konfigurasi jaringan. Hal ini bertujuan untuk mempercepat proses optimalisasi dan penanggulangan gangguan.

Transcoder and Submultiplexer (TCSM)
TCSM mempunyai fungsi umum sebagai berikut:
a. Merupakan bagian (pre-processor) dari BSC.
b. Normalnya ditempatkan berdekatan (co-located) dengan MSC.
c. Digunakan untuk converting bitrate dari 64 Kbps menjadi 16 Kbps atau sebaliknya.
d. Mendeteksi Speech Activity
e. Merupakan interface dari BSC dengan MSC.

Mobile Station
Mobile Station (MS) terdiri dari perangkat bergerak (terminal) dan sebuah smart card yang disebut Subscriber Identity Module (SIM). SIM menyediakan personal mobility sehingga pemakai tidak terikat dengan penggunaan satu terminal saja. Dengan memasukkan SIM ke dalam terminal GSM (Handphone), pemakai dapat menerima panggilan, melakukan panggilan, dan memperoleh layanan yang lain seperti SMS, MMS serta GPRS.
Setiap terminal GSM memiliki sebuah kode unik dari International Mobile Equipment Identity (IMEI). SIM mengandung International Mobile Subscriber Identity (IMSI) yang berguna untuk mengidentifikasi pengguna kepada sistem, kunci rahasia untuk autentifikasi, dan informasi yang lain.

Interface di Jaringan Sistem GSM
Untuk menjamin keaslian data dan sinyal informasi sampai ke tujuan secara benar, diperlukan antarmuka untuk menjamin komunikasi antar bagian dalam GSM dan juga dengan sistem di luar GSM. Interface yang ada pada system GSM antara lain :
a. Um Interface
Terletak antara MS dengan BTS dan disebut juga dengan radio interface.
b. A-bis Interface
Terletak antara BTS dengan BSC. Digunakan untuk pengontrolan radio dan alokasi frekuensi radio pada BTS.
c. A Interface
Terletak antara BSC dengan MSC. Digunakan untuk membawa informasi mengenai manajemen BSS, penanganan panggilan, dan manajemen mobilitas.
d. B Interface
Terletak antara MSC dengan VLR. Digunakan untuk mengakses database pelanggan yang sedang roaming di daerahnya jika data ini diperlukan MSC.
e. C Interface
Terletak antara MSC dengan HLR. Digunakan untuk mencari informasi routing selama pembangunan dan penyambungan hubungan.
f. D Interface
Terletak antara VLR dengan HLR. Digunakan untuk mentransfer data pelanggan mobile dari database asal ke database VLR.
g. E Interface
Terletak antara MSC dengan MSC lainnya.
h. F Interface
Terletak antara MSC dengan EIR. Digunakan untuk memeriksa status MS.
i. G Interface
Terletak antara HLR dengan AUC. Digunakan untuk memeriksa database agar diperoleh parameter otentifikasi pelanggan mobile.

Spektrum Frekuensi
International Telecommunication Union (ITU) yang mengelola alokasi spektrum radio internasional mengalokasikan frekuensi GSM900 yaitu, 890 – 915 MHz untuk frekuensi uplink (mobile station ke base station) dan frekuensi 935 – 960 MHz untuk frekuensi downlink (base station ke mobile station) untuk jaringan bergerak di Eropa.
Daerah frekuensi GSM ini mempunyai 124 Absolute Radio Frequency Channel (ARFCN) dengan lebar bandwidth per kanalnya sebesar 200 kHz dan mempunyai 8 TDMA timeslot.

GSM Logical Channel
Digunakan untuk keperluan komunikasi tertentu yang berupa time slot fisik TDMA dan dibagi menjadi dua bagian, yaitu Logical Traffic Channel (TCH) yang membawa informasi speech data (percakapan), dan Control Channel (CCH) yang membawa signalling data (data pensinyalan bagi mobile unit maupun BTS).

A. Traffic Channel (TCH)
Merupakan kombinasi dari sinyal suara dan data yang terdapat dalam sebuah kanal komunikasi. Setiap percakapan yang akan terjadi pada saat mobile melakukan call set-up, akan ditempatkan pada time slot TCH. Ada 3 macam TCH, yaitu :
1. TCH/F (Full rate TCH), menduduki 1 time slot fisik TDMA dan memungkinkan untuk mentransfer hingga 13 Kbit/s data pelanggan.
2. TCH/H (Half rate TCH), memungkinkan untuk mentransfer ½ kecepatan kanal dengan 6,5 bit/s data pelanggan.
3. TCH/8 (Eight rate TCH), menyediakan rate transmisi data terbatas. Hanya digunakan pada SDCCH sebagai exchange dari call set-up atau short message service.

B. Control Channel (CCH)
Bertujuan menyampaikan data-data yang diperlukan oleh jaringan dan radio, serta bermaksud untuk memastikan semua trafik yang masuk dapat diatasi dengan baik menurut tugasnya masing-masing. CCH terbagi atas 3 kelas :
1. Broadcast Channel (BCH) :
- Broadcast Control Channel (BCCH), menyediakan sistem informasi bagi mobile station seperti identitas daerah lokasi dan lokasi kanal. BCCH terjadi pada saat downlink.
- Frequency Correction Channel (FCCH), digunakan untuk mengkoreksi frekuensi dari mobile station. Terjadi pada saat downlink.
- Syncronization Channel (SCH), membawa informasi mengenai nomor frame TDMA dan Base Station Identity Code (BSIC) dari BTS. Terjadi pada saat downlink.
2. Common Control Channels (CCCH) :
- Paging Channel (PCH), untuk memberi kabar kepada mobile station dan terjadi hanya saat downlink.
- Random Access Channel (RACH), digunakan oleh mobile station untuk meminta lokasi dari SDCCH sebagai respon dari pagging atau pemberitahuan identitas dari mobile station. Terjadi hanya pada saat downlink.
3. Dedicated Control Channel (DCCH) :
- Stand Alone Dedicated Control Channel (SDCCH), untuk sistem pensinyalan baik itu pada saat call set-up ataupun pemberitahuan pada arah uplink dan downlink.
- Slow Associated Control Channel (SACCH), merupakan kanal kontrol yang bekerja sama dengan TCH atau SDCCH serta terjadi saat uplink dan downlink. Pada kanal ini juga dapat mengirimkan measurement reports dari MS ke BTS.
- Fast Associated Control Channel (FACCH), selama proses panggilan berlangsung, maka akan terjadi proses pensinyalan yang sangat berat dimana MS berpindah-pindah dari satu sel ke sel yang lain. Pada saat itulah FACCH berperan sehingga proses handover dapat berlangsung dengan sempurna. Terjadi saat uplink dan downlink.


3. Teknik Frequency Hopping
Frequency hopping adalah teknik dimana frekuensi yang digunakan oleh sepasang base station dan mobile station diubah pada interval waktu yang teratur. Setiap burst termasuk physical channel akan ditransmisikan pada frekuensi carrier yang berbeda dalam tiap frame TDMA. Dan tiap frame TDMA akan ditransmisikan pada frekuensi yang berbeda. Hopping rate sama dengan frame rate, yaitu 217 frame/s. Gambar di bawah adalah ilustrasi frequency hopping bekerja dalam suatu Base Station dengan 4 buah ARFCN. Disini Base Station dapat menggunakan 4 frekuensi yang berbeda.

ARFCN
TS = 2
45 0 1 2
3 4 5 6 7 0 1 2 3 4 5 6 7




34
0 1 2
3 4 5 6 7


27 0 1 2 3 4 5 6 7

18 0 1 2 3 4 5 6 7 0 1 2 3 4 5 6 7

t
Gambar 3.1 Frequency hopping dalam suatu BS dengan 4 buah ARFCN

Namun ada Logical channel yang tidak dihopkan yaitu Broadcast dan Common Control Channel (yaitu BCCH, FCH, SCH, PCH, AGCH). Dalam sistem GSM, antara transceiver (TRX) dengan mobile unit dapat memancarkan dan menerima frekuensi pada frekuensi yang berbeda-beda. Sebuah base station mengandung satu atau lebih sel dan setiap sel mengandung satu atau lebih transceiver. Time slot pertama pada TRX pertama dari sebuah sel, digunakan sebagai Broadcast Control Channel (BCCH). Sisa time slot lainnya pada TRX pertama dan time slot pada TRX lainnya digunakan sebagai Traffic Channel (TCH).
Di dalam sebuah sel juga dialokasikan suatu set frekuensi yang disebut Mobile Allocation (MA). MA mengandung jumlah frekuensi yang sama dengan jumlah TRX. Tiap TRX menggunakan hanya satu frekuensi untuk downlinknya (transmisi ke mobile unit). Frekuensi hopping digunakan untuk melunakkan fading dan interference melalui pendekatan interference diversity dan frequency diversity. Algoritma hopping ada dua macam yaitu random dan siklis. Frekuensi hopping untuk uplink sama dengan frekuensi hopping downlink (ditambah 45 MHz).

Efek Frekuensi Hopping Dalam Interferensi
Dalam non frekuensi hopping sistem GSM, sebuah mobile station (MS) akan mengalami interferensi dari MS-MS yang sama dalam sel-sel co-channel untuk durasi sebuah panggilan. Level interferensi akan menjadi tinggi jika semua MS disituasikan pada ujung sel mereka masing-masing, dan akan menjadi rendah jika MS disituasikan dekat dengan BTS mereka. Ini berarti dalam situasi dimana sebuah MS mengalami level interferensi yang tinggi, MS tetap akan terus mengalami interferensi secara kontinu untuk durasi sebuah panggilan.
Dalam sistem frekuensi hopping, pola hopping (yaitu urutan transmisi frekuensi) berbeda di sel co-channel dan MS akan mengalami interferensi dari MS yang lain tetapi berbeda pada tiap burst. Secara efektif ini akan merandomkan interferensi dan tiap MS akan mengalami level interferensi yang sama rata. Situasi ini lebih baik daripada kasus non frekuensi hopping dimana sangat memungkinkan bagi beberapa MS mengalami level interferensi yang sangat tinggi sedangkan MS yang lain levelnya sangat rendah.

Efek Frekuensi Hopping Dalam Multipath Fading
Propagasi kanal radio bergerak memberi variasi amplitudo yang besar ke dalam sinyal diterima sebagai sejumlah propagation path yang berbeda, yaitu sebagai hasil penjumlahan pada antena penerima. Posisi sinyal redam sangat bergantung pada lingkungan, contoh posisi gedung-gedung, kendaraaan, dan pengoperasian frekuensi. Pada kecepatan bergerak yang tinggi, rate dari sinyal fading menjadi tinggi dan lebarnya akan menjadi rendah. Hasil burst error akan diperbaiki oleh interleaving dan channel coding. Pada kecepatan yang lebih rendah, MS akan menghabiskan periode waktu lebih lama dalam sinyal fading dan keefektifan interleaving maupun channel coding menjadi berkurang.
Frekuensi hopping dapat digunakan untuk menjamin bahwa sebuah MS tidak menghabiskan periode waktu yang lama dalam sinyal fading. Dengan jaminan itu, frekuensi berubah antara dua frekuensi hop berturut-turut di luar bandwidth koheren dari sebuah channel MS mungkin tidak melompat langsung dari satu fade ke dalam fade lainnya. Maka frekuensi hopping digunakan untuk melunakkan efek fast fading pada kecepatan MS yang rendah.

Frekuensi Diversity
Frekuensi hopping merata-ratakan efek sinyal fading dengan beberapa frekuensi. Halangan seperti gedung menyebabkan efek fading karena sinar yang direfleksikan berbeda fasa dengan sinyal utamanya. Tiap frekuensi mendapatkan efek yang berbeda akibat fading. Cara mengatasi hal tersebut adalah menambahkan bit-bit informasi untuk koreksi error ke data. Kemudian data dikodekan dan dipecah-pecah ke dalam paket-paket,masing-masing dikirim sebagai burst sebanyak 2 kali pada A interface (untuk redundansi). Dengan frekuensi hopping ini dikirimkan pada frekuensi yang berbeda. Hal ini memungkinkan data dapat direkonstruksi kembali dengan baik, walaupun terjadi error karena fading. Hal inilah yang dapat memperbaiki performansi transmisi.

Parameter Frekuensi Hopping
1. Mobile Allocation (MA)
MA merupakan sekumpulan daftar frekuensi tertentu yang digunakan dalam hopping sequence. Sekelompok MS ditentukan oleh sebuah MA. Sebuah Traffic Channel (TCH) ditetapkan dalam satu time slot tertentu, sebuah Mobile Allocation Index Offset, dan sebuah Hopping Sequence Number.

2. Mobile Allocation Index (MAI)
Adalah index pertukaran yang diperoleh dari algoritma Frekuensi Hopping yang menunjukkan frekuensi aktif hopping dari daftar Mobile Allocation. MAI dikalkulasi oleh BTS dan MS, menggunakan HSN, MAIO, dan frame number (FN) yang ada.

3. Mobile Allocation Index Offset (MAIO)
MAIO adalah suatu frekuensi offset dalam MA dan berfungsi untuk menunjukkan pada frekuensi mana dalam MA frekuensi hopping dimulai. MAIO digunakan untuk menjamin bahwa tiap TCH menggunakan frekuensi berbeda selama proses hopping. Sebuah TCH baru diberikan suatu offset yang mana selama ini tidak digunakan dalam sebuah time slot.

4. Hopping Group
Sekumpulan time slot (RTSL) yang menggunakan MA dan HSN yang sama dalam suatu sel.

5. Hopping Sequence Number (HSN)
HSN berfungsi untuk menentukan bagaimana sistem pseudorandom akan mulai hopping. Tiap TCH yang berpindah ke frekuensi baru dalam MA, berdasarkan nomor HSN nya. HSN memberikan nomor algoritma untuk mengkalkulasi frekuensi yang akan digunakan untuk mentransmisikan TCH berikutnya dalam MA. Algoritma yang ada sampai dengan 63 algoritma HSN yang berbeda satu sama lainnya, semuanya adalah dalam bentuk pseudorandom. Tetapi walaupun demikian, MA tetap merupakan suatu konstanta sehingga dapat mencegah collision. Sebuah HSN sama dengan nol berarti menggunakan jenis frekuensi hopping siklis, jika tidak bernilai nol maka jenis frekuensi hopping random.

6. MAIO Offset
Adalah parameter optional yang digunakan ketika sel pada site yang sama membagi satu daftar MA. MAIO offset akan memberikan setiap sel nilai offset. Oleh karena itu sel tidak akan menggunakan frekuensi yang sama secara bersamaan. Nilai offset MAIO pada setiap sel harus diberikan oleh user.

7. MAIO Step
Parameter optional untuk meningkatkan kualitas pembagian daftar MA yang diperoleh dengan MAIO Offset. Juga merupakan parameter khusus yang digunakan dalam MAIO yang dialokasikan ke TRX. Ketika parameter optional tersebut digunakan bersama dengan MAIO Offset, parameter tersebut akan memberikan ijin ke daftar MA sehingga isinya juga berisi adjacent channel, parameter tersebut tidak akan digunakan secara bersamaan pada satu site. Sejalan dengan MAIO Offset nilai MAIO Step harus diberikan ke setiap sel oleh user.

Pola Hopping
Pada spesifikasi GSM ada dua tipe pola hopping yang dapat digunakan yaitu Cyclic hopping dan Random hopping. Berikut adalah gambar perbedaan antara Cyclic dan Random.

Frekuensi
F3

F2

F1
t (waktu)
Cyclic Random

Gambar 3.2 Frekuensi Hopping dapat diterapkan pada BSS dengan 2 pola

Pada Cyclic hopping, frekuensi yang digunakan untuk meloncat dengan urutan naik dari satu tempat ke tempat lain dan kemudian terjadi pengulangan secara kontinu. Satu hopping cycle akan berisi satu untuk tiap frekuensi. Dilihat dari performa link, Cyclic hopping akan memberikan frequency diversity dan juga merupakan pilihan terbaik karena memberikan penyebaran maksimum sinyal karena semua frekuensi hanya diikutkan sekali ke dalam hopping setiap cycle.
Sedangkan pada Random hopping, frekuensi berubah menurut pseudorandom sequence. Dilihat dari interference diversity, Random hopping lebih baik daripada Cyclic. Karena frekuensi berubah secara random maka penginterferensi juga akan berubah setiap saat dan hasilnya kualitas dari sinyal yang diterima akan bergantung pada rata-rata tingkat interferensi dari 8 burst berurutan yang diantaranya disisipkan data. Perata-rataan ini diaplikasikan ke semua frekuensi yang digunakan untuk hopping sehingga semua user pada set frekuensi tertentu (contohnya satu site yang menginterferensi), akan memperoleh kualitas sinyal yang baik apabila sinyal penginterferensi mengecil. Random hopping lebih cocok untuk daerah urban (lingkungan interferensi tinggi) dan Cyclic hopping pada daerah rural (maksimum despreading gain terbaik).

Metode Hopping
Frekuensi Hopping pada BSS dapat diimplementasikan menggunakan teknik Baseband hopping (BB-FH) dan RF Hopping/SFH (RF-FH). Berikut adalah penjelasan mengenai kedua metode tersebut .
1. Baseband Hopping (BB-FH)
Pada mode BB-FH, semua transceiver beroperasi pada frekuensi yang tetap. Frekuensi Hopping dihasilkan dengan menswitch burst data baseband secara terus menerus di antara bagian radio TRX baik uplink maupun downlink. Switching dilakukan frame per frame menurut FH sequence. Dengan BB-FH jumlah frekuensi hop terbatas pada jumlah TRX yang diinstal pada sel.

RTSL 0 1 2 3 4 5 6 7
B

TRX-1 f1


TRX-2 f2


TRX-3 f3


TRX-4 f4

Gambar 3.3 Metode Baseband hopping pada BSS

Gambar 3.3 menjelaskan BB-FH dengan 4 TRX, time slot 0 pada TRX-1,2,3 hop pada f2, f3, dan f4. Sedangkan time slot 1 sampai 7 dari semua TRX, hopping pada f1 ,f2, f3, f4. BCCH timeslot pada TRX-1 tidak boleh dihopping, jadi harus dihindari dari hopping sequence.

2. Synthesizer Frequency Hopping (RF Hopping)
Dengan RF hopping semua transceiver terkecuali BCCH TRX, diset untuk merubah frekuensinya frame per frame sesuai hopping sequence. Jumlah loncatan frekuensi yang melalui channel radio tidak terbatas oleh hardware yang digunakan, namun jumlahnya terbatas sampai 63 (jumlah maksimum frekuensi dalam Mobile Allocation (MA) list. Oleh karena itu hopping sequence dapat mengikutsertakan lebih banyak frekuensi pada TRX dalam suatu sel.

B
TRX-1 BCCH TRX


f1,f2,f3,fn

TRX-2

Gambar 3.4 Metode RF hopping dengan 2 TRX.

Dalam RF hopping, frekuensi dari TRX dirubah atau dihopping dalam tiap-tiap TRX itu sendiri. Pada implementasinya, satu TRX di dalam sel diatur menjadi frekuensi tetap (BCCH) dan hanya TRX yang tersisa yang digunakan untuk hopping, sehingga konfigurasi minimum untuk sel RF hopping adalah 2 TRX.

Perbedaan BB Dan RF Frekuensi Hopping

F1(BCCH TS doesn’t hop)
F2
BB - FH F3
MS tidak melihat adanya perubahan




RF - FH BCCH TRX doesn’t hop
F1,F2,F3

Gambar 3.5 Implementasi Frekuensi Hopping pada BSS
Gambar 3.5 menjelaskan perbedaan metode BB dengan RF Hopping pada BSS, namun ketika di MS tidak terlihat adanya perbedaan antara keduanya. Tabel 3.1 menjelaskan perbedaan antara BB FH dengan RF FH.

Baseband Hopping Synthesizer Hopping
- Jumlah frekuensi hopping tergantung jumlah TRX - Jumlah frekuensi hopping tidak terbatas jumlah TRX,tetapi maksimum berjumlah 63
- Dapat menggunakan filter combiner (low combiner losses) - BCCH carrier tidak hop, tidak dapat menggunakan filter combiner
- Digunakan pada daerah sub urban - Digunakan pada daerah urban dan dense urban
- Semua TRX hopping frekuensi kecuali BCCH time slotnya. - Konfigurasi jumlah TRX minimal 2 buah, BCCH TRX(1 TRX tidak hopping frekuensi)



PERENCANAAN SFH

Lisensi Frekuensi
Synthesizer Frequency Hopping (SFH) sangat tergantung lisensi frekuensi yang diperoleh dari pemerintah, contohnya yang digunakan oleh PT.X melibatkan frekuensi yang merupakan sumber daya alam terbatas, dalam arti penggunaannya harus memiliki izin terlebih dahulu dari pemerintah. Frekuensi yang diberikan kepada PT.X misalkan 890 MHz-900 MHz untuk uplink (MS ke BTS), dan 935 MHz-945 MHz untuk downlink (BTS ke MS).
Frekuensi-frekuensi itulah yang digunakan untuk hopping serta untuk BCCH dan MA. Pembagian frekuensi-frekuensi tersebut disebutkan dalam Absolute Radio Frequency Channel (ARFCN) tertentu yang dapat dikonversikan ke bentuk frekuensi (MHz).

Konversi ARFCN
ARFCN merupakan kanal frekuensi yang dituliskan dalam bentuk indeks angka (1,2,3,4,......,124). Indeks angka-angka tersebut menunjukkan satu frekuensi tertentu, dimana untuk mengetahui frekuensi berapakah yang ditunjuk indeks itu maka dilakukan konversi ke frekuensi (MHz).
Karene lebar per kanal adalah 0,2 MHz, maka frekuensi yang dipakai yaitu 890 MHz, 890,2 MHz, 890,4 MHz, dan seterusnya. Bila ARFCN bernilai N =1 maka dikonversikan ke frekuensi menjadi 890 MHz. Tabel di bawah menjelaskan konversi sebagai berikut :

Tabel 4.1

No ARFCN Frekuensi (MHz)
1. 1 890,2
2. 2 890,4
3. 5 891
4. 20 894
5. 49 899,8

Berdasarkan tabel di atas, berarti rumus yang dipakai untuk mengkonversikan ARFCN tersebut adalah :
890 + 0,2 N ..............................................


Sebelum melakukan perencanaan frekuensi dalam SFH, adanya suatu pedoman atau aturan diperlukan agar dapat melakukan proses perencanaan dengan baik. Tidak semua aturan ini baku tetapi memang dibutuhkan untuk kerapihan dalam melakukan perencanaan.

1. Alokasi Kelompok Kanal
Pemakaian kanal MA dan BCCH dibagi dalam indeks-indeks tertentu yang terpisah.Untuk MA menggunakan ARFCN 1 sampai dengan 30 sedangkan BCCH memakai ARFCN 32 sampai dengan 49.

MA (Hopping) BCCH (Non hopping)

1 30 32 49
Gambar 4.1 Pembagian kanal MA dan BCCH PT.X

2. Strategi Pengelompokan BCCH
Agar lebih mudah dalam proses perencanaan BCCH, maka terlebih dahulu dibuat tabulasi atau pengelompokan BCCH seperti terlihat pada tabel 4.4. Setelah itu baru dibuat perencanaannya di atas kertas untuk menentukan pemakaian frekuensi pada site-site.

Tabel 4.4 Tabulasi BCCH
Site A B C D E
Sektor 1 32 33 34 35 36
Sektor 2 37 38 39 40 41
Sektor 3 42 43 44 45 46


3. Strategi MA
a. Single MA List (MAL ID = 30)
MA yang digunakan adalah MAL ID = 30, artinya setiap sektor menggunakan MAL ID yang sama yaitu indeks 1 sampai dengan 30. Tetapi dalam satu sektor tiap TRXnya menggunakan frekuensi MA yang berbeda-beda.
b. Flexible MAIO Management
Manajemen MAIO ini mencegah terjadinya co channel maupun adjacent channel interference. Tiap TRX dalam satu sektor menggunakan titik awal yang berbeda dalam hopping frekuensi. Misalnya TRX-2 menggunakan MAIO = 0, TRX-3 menggunakan MAIO = 2, dan TRX-4 menggunakan MAIO = 4 .
c. MAIO Step
Dapat dilihat pada penjelasan manajemen MAIO bahwa selisih MAIOnya adalah 2, ini menjelaskan bahwa MAIO step adalah sama dengan 2. Walaupun MAIO step tidak harus mengikuti aturannya, namun hal tersebut diperlukan untuk merapihkan perencanaannya. Untuk MAIO konversinya dijelaskan pada tabel 4.3 sebagai berikut :

Tabel 4.3 Konversi MAIO
MAIO 0 2 4 6
ARFCN 1 3 5 7
Frekuensi (MHz) 890,2 890,6 891 891,4

4. Strategi HSN
HSN hanya menentukan urutan hopping TCH dalam satu site sehingga tidak berkaitan dengan adjacent channel interference antar site lainnya, tetapi harus menggunakan MAIO yang berbeda. Algoritma yang dipakai adalah dari 1 sampai 63.

5. Base Station Identity Code (BSIC)
BSIC merupakan kode identitas yang dimiliki oleh tiap-tiap BTS yaitu terdiri dari Network Colour Code (NCC) dan Base Colour Code (BCC). Kode-kode itu diperlukan terutama pada saat terjadi handover suatu mobile station dari layanan BTS ke BTS lainnya.
Ketika MS handover dari BTS ke BTS lainnya dalam BCCH yang sama, BSIC membuat MS tetap berada pada layanan handover yang dituju.

Perencanaan BCCH
Perencanaan BCCH merupakan hal yang perlu diperhatikan karena frekuensi BCCH tidak boleh dihopping dan bersifat tetap (fixed). BCCH harus diatur pengalokasiannya agar tidak terjadi interferensi. ARFCN BCCH yang tersedia adalah 32 sampai 49.

32 OUTDOOR COVERAGE 46 47 INDOOR COVERAGE 49
Gambar 4.2 Pembagian Kanal Outdoor dan Indoor BCCH

Adanya suatu site yang terletak di dataran tinggi tertentu membuat coverage atau cakupan frekuensi meluas hingga menginterferensi beberapa site lainnya. Site yang berada di dataran tinggi ini mempunyai kanal frekuensi yang tidak boleh digunakan oleh site lain yang berada dalam cakupannya, inilah yang dinamakan forbidden channel.

Berdasarkan tabulasi BCCH yang sudah ditentukan dan dengan melihat letak site-site, maka menentukan frekuensi-frekuensi BCCH berapa saja yang digunakan pada site. terdapat BCCH reuse frekuensi dengan pola pengulangan sama dengan 3.

Perencanaan HSN
HSN diusahakan berbeda antara satu site dengan site lainnya dimaksudkan untuk membuat hopping berbeda satu dengan lainnya dalam suatu interval waktu sehingga mencegah tumbukan. Dalam satu site diperbolehkan memiliki HSN yang sama karena MAIOnya berbeda sehingga hopping tetap akan berbeda. Tabel di bawah menunjukkan penetapan HSN di site area X.

Tabel 4.5
Nama Site HSN
A 45
B 13
D 29
G 57
N 53
BB 41
LL 17
UI 49

Tabel 4.5 di atas memperlihatkan bahwa HSN pada setiap site berbeda dan setiap sektor dalam satu site memakai HSN yang sama. HSN tersebut menentukan jumlah hopping TCH selanjutnya dalam selang waktu t berikutnya.

Perencanaan MAIO TCH
Suatu frekuensi yang dialokasikan di setiap transceiver atau TRX per sektornya, direncanakan dengan mengikuti pengelompokkan sebagai berikut.

Tabel 4.6 Pengelompokkan MAIO
SITE A B C D E
Sektor 1 1,3,5 19,21,23 2,4,6 20,22,24 3,5,7
Sektor 2 7,9,11 25,27,29 8,10,12 26,28,30 9,11,13
Sektor 3 13,15,17 1,3,5 14,16,18 2,4,6 15,17,19

Perencanaan BSIC
Setiap site yang memiliki BCCH sama, diberikan kode identitas (BSIC) yang berbeda untuk proses handoff. BSIC terdiri dari NCC dan BCC, dimana NCC menunjukkan kode area jaringan dan BCC adalah kode untuk membedakan site dengan BCCH yang sama. Pada site area Malang ini diberikan NCC yang sama dan BCC untuk BCCH sama diberikan berbeda. Data perencanaan BCCH, HSN,MAIO, dan BSIC dapat dilihat di tabel di bawah ini.

Tabel 4.7 Data perencanaan parameter SFH
Nama Site BCCH HSN MAIO NCC BCC
Blitar1 32 1 1,3,5 7 2
Blitar2 37 1 7,9,11 7 2
Blitar3 42 1 13,15,17 7 2
Maron1 35 5 20 7 2
Maron2 40 5 26,28,30 7 2
Maron3 45 5 2,4,6 7 2
Langkapan1 34 17 2,4 7 1
Langkapan2 39 17 8,10,12 7 1
Langkapan3 44 17 14 7 1
Pasar Rebo1 36 9 3,5 7 0
Pasar Rebo2 41 9 9,11 7 0
Pasar Rebo3 46 9 15 7 0
Brawijaya1 33 13 19,21 7 0
Brawijaya2 38 13 25,27 7 0
Brawijaya3 43 13 1,3,5 7 0
Pasar Minggu1 25 1 7 0
Pasar Minggu2 37 25 7,9 7 0
Pasar Minggu3 42 25 13 7 0
Stie_Blitar1 34 21 2,4,6 7 2
Stie_Blitar2 39 21 8,10 7 2
Stie_Blitar3 44 21 14,16 7 2
Citandui1 33 29 19,21 7 1
Citandui2 38 29 25,27,29 7 1
Citandui3 43 29 1,3,5 7 1
Raya_tidar1 36 61 3,5,7 7 1
Raya_tidar2 41 61 9,11 7 1
Raya_tidar3 46 61 15,17,19 7 1
Ikip_Jakarta1 35 41 20 7 0
Ikip_Jakarta2 40 41 26,28,30 7 0
Ikip_Jakarta3 45 41 2 7 0
Dieng_Srengat1 34 57 2,4 7 0
Dieng_Srengat2 39 57 8,10 7 0
Dieng_Srengat3 44 57 14,16 7 0
Regent1 36 37 3,5 7 2
Regent2 41 37 9,11 7 2
Regent3 46 37 15 7 2
_Santika_jkt 48 45 4 7 0
Gita_fm1 33 53 19,21 7 2
Gita_fm2 38 53 25,27 7 2
Gita_fm3 43 53 1 7 2

Setelah melakukan perencanaan SFH, dilakukan analisa perencanaan tersebut agar hasil dari perencanaan menjadi lebih baik dan selanjutnya dapat mempermudah optimalisasi jaringan. Analisa perencanaan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti pemutaran sektorisasi, melihat interferensi co channel dan adjacent channel dengan Map Info, mengurangi power suatu site, ataupun dengan mengubah ketinggian antena dan melihatnya dengan Asset, TCP atau NetAct.
Setelah melakukan perencanaan dalam menentukan frekuensi BCCH pada setiap site dan sektornya, dilakukan pemeriksaan frekuensi dengan menggunakan program dari MapInfo atau MCOM. MCOM dapat membantu perencanaan frekuensi agar meminimalkan interferensi. Di MCOM dapat dilihat frekuensi-frekuensi mana saja yang merupakan co channel dan adjacent interference dengan memasukan data frekuensi berapa yang dikehendaki untuk diperiksa.
Dari perencanaan BCCH yang sudah diberikan sebelumnya, kita dapat melihat hasil perencanaan tersebut dari simulasi yang dikalkulasikan oleh sofware Asset sehingga dapat diketahui apakah perencanaan yang sudah dilakukan sudah baik atau belum.

Perbaikan Dengan Perubahan Frekuensi
Dengan bantuan Asset dapat dilihat site-site mana saja yang mengalami interferensi yang buruk. Kemudian setelah mengetahui site-site tersebut, frekuensi pada salah satu site itu dirubah dengan frekuensi lainnya yang belum digunakan di dekat daerah site tersebut.

Perbaikan Dengan Perubahan Tilt Antena
Untuk mengurangi terjadinya interferensi terutama disebabkan kanal yang sama, kita juga dapat mengubah tilt atau kemiringan antena agar coverage site yang menggunakan frekuensi yang sama tidak saling berinterferensi.Down tilt ditambah besarnya sehingga coverage sitenya mengecil. Tilt antena site yang dirubah adalah site-site yang berada di dalam perkotaan yaitu daerah dimana sekitarnya banyak terletak site-site lainnya.

Perbaikan Dengan Perubahan Daya Antena
Cara lain untuk mengurangi interferensi adalah dengan mengurangi daya antena pada salah satu site yang berinterferensi agar cakupan coverage mengecil. Besar daya antena site tersebut dilakukan penurunan daya sehingga menjadi lebih kecil. Maka dapat kita lihat di Asset bahwa hasil perencanaan setelah perbaikan, menghasilkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Yaitu warna merah dan oranye yang merupakan daerah terinterferensi yang sangat buruk, menjadi hilang.

DCS 1800 (Digital Cellular System 1800 )

Sistem komunikasi bergerak yang berlaku di suatu negara disesuaikan dengan keadaan geografisnya, sehingga masing-masing negara mempunyai sistem komunikasi sendiri-sendiri. Di Amerika dengan D-AMPS, CDMA dan PCS 1900, Eropa dengan DCS 1800 dan DECT, Jepang dengan PHS dan negara-negara di Asia dengan D-AMPS dan DCS 1800. Semua sistem mempunyai kelebihan yang disesuaikan dengan perkembangan negara yang bersangkutan. Di negara kita sendiri sedang mempertimbangkan kemungkinan aplikasi bagi sistem PCS (Personal Communication Service) tersebut

Implementasi PCS harus memperhitungkan faktor-faktor diantaranya:
1. Sistem harus memenuhi kebutuhan pasar untuk dimutakhirkan sehingga mampu beradaptasi dengan teknologi masa depan.
2. Sistem harus mempunyai basis teknologi yang sudah mapan.
3. Diproduksi oleh lebih dari satu vendor.
4. Dapat berkompetisi dari sisi kualitas maupun harga.
5. Mempunyai kapasitas tinggi untuk konsumsi daerah urban.
Pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan sistem PCS yang akan secara resmi digelar di Indonesia. Diantaranya yang sedang menjalani tahap uji coba atau pilot project adalah DCS 1800 dan PHS.
Dalam artikel ini yang akan dibahas adalah sistem DCS 1800 atau GSM 1800 yang meliputi pengenalan DCS 1800, Traffic Management, Signalling dan Transmission.

DCS 1800
Digital Cellular System 1800 atau DCS 1800 adalah standar sistem turunan dari standar GSM yang dikembangkan oleh ETSI (European Telecommunication Standard Institute).
GSM merekomendasikan DCS 1800 untuk kebutuhan Digital Personal Communication System dan mengusulkan pita frekuensi 1800 MHz, yang mempunyai kapasitas trafik tiga kali lebih besar daripada jaringan selular lainnya karena kanal trafik yang tersedia lebih banyak. Diameter sel mulai dari 200 meter sampai 8 km yang diimplementasikan untuk jaringan PCS memungkinkan pengaturan daya jangkau menurut kebutuhan intensitas trafik. Daya transmisi yang rendah diperlukan untuk jangkauan pendek dan kondisi propagasi di ban 1800 MHz menunjang penggunaan spektrum frekuensi yang effisien karena potensi reusability yang tinggi dari frekuensi transmisi.
Jaringan DCS 1800 dikembangkan dengan menggunakan jaringan komunikasi bergerak yang intelejen untuk menunjang tingkat keandalan dan ketersediaan yang tinggi. Selain itu sistem ini memungkinkan standar mobile baru dikombinasikan dengan yang sudah ada. Dengan basis GSM ini, DCS 1800 merupakan sistem yang cukup mature yang tidak hanya mengoptimalisasi kekuatan awal untuk pengembangan dimasa depan, tetapi memudahkan feature-feature GSM dapat segera dipergunakan.

Karakteristik utama DCS 1800 adalah sebagai berikut :

Parameter Nilai
Frekuensi 1780 - 1880 MHz
Metoda akses TDMA
Spasi f carrier 200 KHz
Metoda modulasi GMSK
Kecepatan transmisi 270,83 knps
Daya keluaran transmisi 100 - 250 mW
Pengkodean suara 22,8 kbps RELP
Juml kanal f pembawa 8 time slot
Radius sel 0,2 - 8 Km


Evolusi DCS 1800 dari GSM
• 1982 CEPT menginisialisasi sistem baru bernama GSM
• 1985 CEPT membuat keputusan jadwal waktu dan action plan
• 1986 CEPT telah melakukan tes delapan eksperimen sistem di Paris
• 1987 Memorandum of Understanding (MoU), mengalokasikan frekuensi :
- 890-915 uplink (dari MS ke Base Station)
- 935-960 downlink (dari Base Station ke MS)
• 1988 ETSI dibuat meliputi anggota administrasi, industri dan pemakaian secara group.
• 1989 rekomendasi terakhir dan spesifikasi.
• 1991 pertama kali diresmikannya istilah GSM
• 1992 operator Australia yang pertama kali sebagai operator non Eropa yang menandatangani GSM pada MoU.
• 1992 alokasi frekuensi baru
- 1710-1785 uplink
- 1805-1880 downlink

Traffic management
Sistem DCS 1800 menyimpan Database pelanggannya pada SIM (Subscriber Identity Module). Informasi yang ada pada SIM adalah penanganan keamanan informasi, identitas pelanggan, informasi keberadaan pelanggan pada jaringan, access right, jaringan yang disukai dan yang tidak disukai.
Data yang bersifat permanen akan disimpan pada HLR (Home Location Register), data yang temporary disimpan di VLR (Visitor Location Register) yang menyatu dengan MSC.

Location update
Pada proses ini MS (Mobile Station) selalu mengirim informasi kepada jaringan. Pada jaringan keberadaan MS di monitor melalui VLR dari SIM card, jika MS menempati lokasi yang berbeda, maka akan melakukan location update baru lagi.


Call set up

1. Call set up di GSM jaringan PSTN originated call, dengan mengakses nomor Mobile Subscriber International ISDN Number (MSISDN)
MSISDN = CC + NDC + SN
CC = Country Code
NDC = National Destination Code
SN = Subscriber Number
2. Call set up di jaringan GSM, panggilan melalui PSTN melalui jaringan GSM, dimana MSC terhubung dengan PSTN untuk mengetahui Gateaway MSC (GMSC). Kemudian GMSC menganalisa MSISDN yang telah diterima. Database pelanggan GSM hanya diberikan oleh HLR, GMSC meminta HLR untuk beberapa routing informasi untuk mengetahui kemana rute panggilan.
Database pada HLR berisi :
IMSI = MCC + MNC + MSIN
IMSI = International Mobile Subscriber Identity
MCC = Mobile Country Code (3 digits)
MSIN = Mobile Subscriber Identity Number (10 digits)
MNC = Mobile Network Code (2 digits)
Proses yang terjadi :
• HLR menerima alamat subscriber dari VLR dari databasenya.
• HLR mengirim permintaan routing informasi message ke target MSC/VLR.
• Target MSC/VLR untuk menempatkan MSRN (Mobile Subscriber Roaming Number) untuk panggilan.
• MSRN = CC + NDC + SN
• Format MSRN sama dengan MSISDN.
• MSRN juga mempunyai cukup informasi untuk memungkinkan GMSC melewatkan panggilan ke target MSC.
• Target MSC memajukan MSRN ke MSC.
• HLR mmajukannya ke originating MSC.
• Originating MSC menganalisa MSRN.
• Tipe nomor telepon memungkinkan format panggilan menjadi tertuju ke MSC.

Network subsystem
• Berisi : MSC, VLR dan HLR
• Berfungsi : sebagai kontrol panggilan, mobility management, signalling (terhadap BSS, jaringan lain, ke elemen NSS lain), menangani data subscriber dan menempatkan subscriber untuk mobile terminated calls.

Location areas
• Location area adalah daerah MSC/VLR yang terbagi dalam daerah kecil.
• Pelanggan bisa berpindah pada tempat ini tanpa harus melakukan location update.
• Maksimum ukuran LA dapat menjadi satu daerah MSC dan minimum adalah satu sel.
• Panggilan dilakukan dalam semua sel LA dimana pelanggan saat itu.
• LAI = MCC + MNC + LAC
• LAI = Location Area Identity
• LAC = Location Area Code
• MCC = Mobile Country Code
• MNC = Mobile Network Code
Base station subsystem
• Terdiri dari Base Station Controller (BSC), Base Transceiver Station (BTS), Transcoder (TC).
• Fungsi :
• Radio Path Control, kontrol BTS dan TC, sinkronisasi dengan MSC.
• Air dan A interface signalling, connection antara MS-NSS.
• Manajemen mobility dan speech transcoding.
• Mengumpulkan data statistik.


Mobile originated call
Pemakai MS men-dial nomor, terjadi proses:
• MSC menerima dengan menganalisa data pelanggan yang dipanggil untuk memastikan MSC akan mengautorisasi atau membatalkan pemekaian jaringan, mengaktifkan permintaan layanan dan rute panggilan.
• Jika telah men-dial nomor MSISDN MS lain pada jaringan yang sama, HLR akan mendapatkan MSRN (prosedur yang sama dengan PSTN originating call).
• Jika ke nomor PSTN melalui GMSC.

Tipe location update
• Power on, maka diketahui IMSI dan Location Registration.
• Generic, dilakukan setiap waktu MS berubah Location area.
• Periodic, dilakukan setelah preset timer berakhir, sejak transaksi terakhir dengan jaringan. Penghitungan waktu bebas oleh operator jaringan.

Handovers
1. Handover terjadi saat kapasitas sel mendekati maksimum, MS akan dipindah pada sel tetangga dengan traffic yang lebih rendah.
2. Handover terjadi juga karena kualitas sinyal dan kekuatan pancar, dimana MS tidak dapat lagi menggunakan frekuensi tersebut, maka MS akan pindah ke sel baru. BSc mengontrol pemindahan sel menjadi handover.
Tipe-tipe handover
1. Handover cell :
Intra cell –Intra BSC handover
Inter cell – Intra BSC handover
Inter cell – Inter BSC handover
2. Handover MSC :
Inter MSC handover
Intra MSC handover

Charging
Charging dikenakan untuk pengadministrasian instalasi, administrasi pelayanan dan pemakaian jaringan. Untuk charging pengumpulan data dilakukan MSC (Charging Records). Untuk transfer charging data dilakukan oleh MSC (Billing Centre).

Network Management Subsystem (NMS/2000)
Fungsi dari NMS :
• Manajemen kesalahan, dimana satu poin untuk menyusun semua kesalahan dan mengumpulkan laporan alarm dari elemen jaringan.
• Manajemen konfigurasi, untuk manajemen konfigurasi jaringan radio dan menjaga ketepatan data dalam status elemen jaringan.
• Manajemen performansi, untuk mengumpulkan data pengukuran dari elemen jaringan dan menghasilkan performansi dari data mentah.
Security
• Autentikasi, dimana masing-masing pelanggan mempunyai kunci identitas Ki, tersimpan dalan AC (Authentication Centre) dan SIM Card.
• Ciphering, dimana pembicaraan akan melalui proses enkripsi dan dilewatkan pada udara dari pembicaraan yang sudah di enkripsi.
• IMEI (International Mobile Equipment Identity) Checking, dilakukan dengan memastikan ME dengan memeriksa kepastian data apakah sebagai pelanggan melalui operator sehingga mencegah adanya telepon yang tidak cocok, melalui Identity EIR (Equipment Identity Register) oleh HLR.
• User Confidentiality (merahasiakan user), dimana dengan IMSI identitas subscriber akan dirahasiakan, jika sukses pada location update, maka MS teralokasi dengan TMSI (Temporary Mobile Subscriber Identity), sehingga dalam bertransaksi dalam jaringan GSM/DCS dengan TMSI. Juga ditambahkan dengan kode PIN (Personal Identification Number) pada SIM card, dimana bisa melakukan hubungan jika memasukkan PIN.

TELESERVICES
Speech (Telephony), Emergency calls, Short Message Service (Mobile terminated), Short message Service (Mobile originated), Short message service (Cell broadcast), Group 3 facsimile transmission (dengan alternate speech) dan Automatic group 3 facsimile transmission.

SIGNALLING
Signalling adalah proses yang harus di lakukan dalam melakukan komunikasi, untuk membangun hubungan dan juga untuk memutuskan hubungan.
Dalam signalling pada sistem DCS 1800 ini dilakukan oleh protokol SS7. Pada jaringan DCS 1800 SS7 adalah menghubungkan antara MSC, BSC, HLR dan PSTN.
SS7 berisi bagian-bagian yang mempunyai tugas yang berbeda-beda. Isi dari SS7 adalah sebagai berikut :
1. MTP (Message Transfer Part), bertanggungjawab dalam mentransfer message dari satu elemen jaringan ke elemen lain dalam jaringan yang sama. MTP terdiri dari 3 layer.
2. elemen yang lain dalam jaringan yang sama, dimana MTP terdiri dari 3 layer.
3. TUP (User Part of the message brought by MTP), dimana berperan untuk mencocokkan dengan penyusunan, pengawasan dan pembubaran koneksi panggilan. TUP berisi dua varian, yaitu NUP dan ISUP.
4. SCCP (Signalling Connection and Control Part), fungsi utamanya adalah menyediakan virtual koneksi dan signalling tanpa penghubung.
5. BSSAP (Base Station Subsystem Application Part) adalah layer protokol yang bertanggungjawab untuk hubungan spesifikasi GSM antara MSC
dan BSC, dan MSC dan MS.
6. MAP (Mobile Application Part) adalah protokol khusus GSM untuk aplikasi yang tidak berhubungan dengan panggilan antar elemen NSS (Network Subsystem Summary).
7. TCAP (Transaction Capabilitas and Application Part) merupakan layer protokol yang bertanggung jawab untuk menyediakan pelayanan untuk MAP dengan menangani transaksi message MAP antara elemen multipel.

Signalling adalah mentransfer informasi antara subscriber interface points dan jaringan juga antara elemen yang berbeda dalam jaringan untuk membantu membentuk hubungan.
Informasi signalling adalah pertukaran sebagai kumpulan standar message yang mana sudah dikembangkan dan distandarisassi dalam sistem SS7 sekarang. Jaringan GSM memerlukan signalling yang berhuibungan dengan
panggilan yang dimungkinkan dengan SS7. SS7 digunakan pada jaringan PSTN tidaklah cukup untuk mengisi persyaratan pada jaringan GSM, dengan demikian protokol khusus GSM telah terbangun.

Basis pada SS7 adalah MTP, dimana ia bertanggung jawab untuk mentransfer message signalling dari satu elemen ke elemen yang lain dengan jaringan signalling yang sama. TUP/ISUP adalah bagian user dari MTP yang menangani kontrol call. SCCP diperlukan untuk virtual koneksi dan signalling tanpa koneksi. BSSAP digunakan untuk signalling antara MSC-BSC dan MSC-MS. MAP diperlukanuntuk signalling antara elemen NSS.

TRANSMISION
DCS 1800 mempunyai frekuensi
Kerja : uplink 1710 – 1785 MHz
Downlink 1805 – 1880 MHz

Mempunyai pasangan frekuensi 1710-1805 MHz; 1710,2-1805,2 MHz; …;1785-1880 MHz. Jadi menggunakan Duplex frekuensi 95 MHz, dengan 374 carrier. Menggunakan metoda akses TDMA dengan 8 time slot.
Pada proses transmisi ada dua tipe kanal yang digunakan, yaitu physical channels dan logical channels. Physical channels terdiri dari 8 time slots pada TDMA frame, dimana nomor pada physical channels adalah selalu 8 tiap frekuensi carrier.
Untuk proses call set-up, MS akan meminta nomor kanal yang akan digunakan selama call set-up. Proses permintaan kanal selama call set-up :
• Kanal mengirimkan informasi untuk MS tuning pada frekuensi tertentu.
• Kanal akan mengirimkan informasi sinkronisasi.
• Kanal memberi informasi tentang jaringan untuk membantu MS mengetahui frekuensi pada sel yang akan digunakan di sekitar sel.
• Kanal mengirim permintaan MS untuk menginisialisasi call set-up.
• Kanal akan meng-set up suatu panggilan.
• Kanal akan mengirim informasi handover.
• Kanal menempatkan pembicaraan.
• Kanal melakukan terus kontrol.

Permasalahan yang akan terjadi adalah tidak adanya kanal untuk pembicaraan. Solusi adalah dengan terus memberikan lebih dari satu tipe informasi pada kanal dengan sharing.

Pada Logical Channels dibagi menjadi dua tipe, yaitu Common Channels dan Dedicated Channels. Common Channel terbagi menjadi Broadcast channel dan Common Control Channels.

Broadcast Channels berisi :
• Frequency Correction Channel (FCCH) berupa gelombang sinus murni, berfungsi untuk MS mencari kanal untuk switch on dan hanya untuk downlink.
• Sybchronisation Channel (SCH), setelah mengunci penggunaan frekuensi, MS akan sinkronisasi dengan SCH, dimana SCH berisi BSIC untuk BTS dan nomor TDMA frame (digunakan untuk enkripsi).
• Broadcast Contro Channel (BCCH) yang memberikan informasi tentang BTS mengenai pemakaian frekuensi, frekuensi hopping sequence, kombinasi kanal, paging groups dan informasi sekitar sel.
Common Control Channels berisi :
• Paging Channel (PCH) untuk dowwnlink kanal dan penggunaan BTS untuk memangil MS.
• Random Access Channel (RACH) untuk uplink kanal, untuki permintaan MS pada dedicated control channel, selain itu untuk MS originated calls.
• Access Grant Channel (AGCH) untuk downlink kanal dan BTS memberikan dedicated control channel.

Sedangkan Dedicated Channels terbagi menjadi Dedicated Control Channels dan Traffic Channels.

Dedicated Control Channels berisi :
• Stand Alone dedicated Control Channel (SDCCH) berupa bi-directional kanal, untuk pemakaian prosedure call set up dan autentikasi, TCH memberikan persetujuan penggunaan SDCCH.
• Slow Assiciated Control Channel (SACCH) bersama dengan SDCCH dan TCH, melakukan kontrol power MS, timing alignment dan measurement reports.
• Fast Associated Control Channel (FACCH) bersama dengan TCH melakukan kontrol komunikasi, handover.
Traffif Channels berisi :
• Traffic Channel, Full Rate (TCH/F) berupa bi0directional kanal, untuk trnasmisi data dengan kecepatan 13 kbit/s.
• Traffic Channel, Half Rate (TCH/H) berupa bi-directional kanal, untuk transmisi data dengan kecepatan 6-7 kbit/s dan standarisasi pengkodean pembicaraan yang belum selesai.
• Enchaunch Full Rate (TCH/AFR)

Berbagai tipe burst pada proses transmisi diudara :
1. Frequency Correction Burst, penggunaan pengiriman FCCH kanal.
2. Synchronisation Burst, untuk mengirim sinkronisasi.
3. Access Burst, digunakan untuk mengirim informasi RACH, dimana RACH berisi pesan pertama dari MS ke BTS dan membantu coverage BTS untuk mengukur jarak MS dari BTS dan mengirimkan informasinya.
4. Normal Burst, pemakaian untuk mengirim informasi logocal channels.

Pada transmisi juga akan melalui media udara, maka dilakukan solusi dengan cara Viterbi Equalisation dan Channel Coding. Selain itu jika terhalang bukit pada proses transmisi (shadowing) dilakukan solusi dengan Adaptive Power Control.
Tipe-tipe konfigurasi BTS yang digunakan ada 3, yaitu Omnidirectional BTS, 3 sectirised BTS dan 2 sectorised BTS. Koneksi antara BSC dan BTS ada beberapa tipe, yaitu Point to Point Connection, Multi drop Chain dan Multi droop loop.

Permasalahan logistik yang ada pada Physical Channel, berupa :
1. Banyak fungsi yang memungkinkan MS untuk melakukan percakapan.
2. Masing-masing fungsi memerlukan logical channel yang terpisah, karena isi data yang berbeda.
3. Mempunyai Control channels (set up call) dan Traffic Channels (speech/data).
4. Pada sel kecil, dengan hanya satu frekuensi carier terjadi masalah, dimana ada 11 logical control channels yang menjadi lokasi map tanpa physical channels. Ada delapan physical channels yang tersedia, ini memungkinkan untuk memberikan physical channel yang terpisah untuk masing-masing logical channels.
5. Solusi lokasi map hanya satu atau dua physical channels untuk fungsi kontrol, yang lain untuk cadangan. Artinya control channels harus sharing ke sesama physical resources.

Waktu Mengalahkan Hidupmu

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu mengangap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, menggangu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya. Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf,dia selalu berkata, "Tidak apa-apa, besok kan bisa." Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar aja.

Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah
sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."
Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi.
Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang cewek yang sangat cantik dan baik. Cewek ini kemudian menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah, aku capek, besok saja aku hubungin mereka." Ini tidak terlalu mengganggu Dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar.Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya.

Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya.

Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya
kesempatan untuk mengatakan pada istrinya "Aku cinta kamu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya. " Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan perpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum sempat berkata "Aku cintakamu", istrinya telah meninggal dunia. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya. Tapi, dia baru sadar bahwa anak anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.

Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang
menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70. Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii , New Zealand ,dan negara-negara lain bersama istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah Jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya.Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang Tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata
kepadanya, "Ah, andai saja aku menyadari ini dari dulu...." Kemudian
perlahan ia menghembuskan napas terakhir, Dia meninggal dunia dengan airmata dipipinya.

============ ========= ========= =========

Apa yang saya ingin coba katakan pada anda, waktu itu nggak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari, anda ternyata telah maju terlalu jauh.

Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah!

Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera.

Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin
bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dan cinta dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan datang.

Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka "besok" akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah meninggalkanmu.

Jumat, 30 Mei 2008

Mengenal GSM

Komunikasi bergerak (mobile communication) mulai dirasakan perlu sejak orang semakin sibuk pergi ke sana kemari dan memerlukan alat telekomunikasi yang siap dipakai sewaktu-waktu di mana saja ia berada. Kebutuhan ini ternyata tidak dibiarkan begitu saja oleh para engineer telekomunikasi. Mereka telah memikirkan standardisasi untuk komunikasi bergerak ini, salah satunya adalah GSM (Global System for Mobile communications)
Alokasi spektrum frekuensi untuk GSM awalnya dilakukan pada tahun 1979. Spektrum ini terdiri atas dua buah sub-band masing-masing sebesar 25MHz, antara 890MHz - 915MHz dan 935MHz - 960MHz. Sebuah sub-band dialokasikan untuk frekuensi uplink dan sub-band yang lain sebagai frekuensi downlink.
Karena konsekuensi logis dari kenaikan redaman atas kenaikan frekuensi, biasanya sub-band terendah dipakai untuk uplink, agar daya yang ditransmisikan oleh MS (mobile system atau lebih dikenal handphone) ke BTS (Base Transmitter Station yaitu seperti sentral telepon di PSTN/POTS, namun memiliki fungsi lebih) tidak perlu besar. Kalau digunakan sub-band yang satu lagi, mungkin anda perlu melakukan recharge batere handphone berulang kali untuk mendapatkan kualitas sama dengan saat ini.
Kemudian kedua sub-band tersebut dibagi lagi menjadi kanal-kanal, sebuah kanal pada satu sub-band memiliki pasangan dengan sebuah kanal pada sub-band yang lain. Tiap sub-band dibagi menjadi 124 kanal, yang kemudian masing-masing diberi nomor yang dikenal sebagai ARFCN (Absolute Radio Frequency Channel Number). Jadi sebuah MS yang dialokasikan pada sebuah ARFCN akan beroperasi pada satu frekuensi untuk mengirim dan satu frekuensi untuk menerima sinyal.



Untuk GSM, jarak antar pasangan dengan ARFCN sama selalu 45MHz, dan bandwidth tiap kanal sebesar 200kHz. Kanal pada tiap awal sub-band digunakan sebagai guard band. Silakan anda hitung, maka spektrum GSM akan menghasilkan 124 ARFCN, masing-masing diberi nomor 1 sampai 124. Kanal sebanyak 124 inilah yang nantinya dibagi-bagi buat operator-operator GSM yang ada di suatu negara.

Untuk mengantisipai perkembangan jaringan di masa mendatang, telah dilokasikan tambahan 10MHz frekuensi pada masing-masing awal sub-band. Ini dikenal sebagai EGSM (Extended GSM). Jadi spektrum EGSM ini 880MHz - 915MHz buat uplink dan 925MHz - 960MHz buat downlink. Hal tersebut memberi tambahan 50 ARFCN menjadi 174. Tambahan ARFCN ini diberi nomor 975 - 1023.

DCS 1800
Seiring dengan evolusi GSM, diputuskan untuk menerapkan teknologi ini pada PCN (Personal Communication Networks). Hal ini membutuhkan perubahan pada interafce udara untuk memodifikasi frekuensi operasinya. Frekuensi modifikasinya antara 1710MHz - 1785MHz untuk uplink dan 1805MHz - 1880MHz untuk downlink. Teknik ini menyediakan 374 ARFCN dengan pemisahan frekuensi sebesar 95MHz antara uplink dan downlink.
Teknik PCN ini dikembangkan di Eropa, khususnya di Inggris. Di Inggris (Raya) ARFCN ini telah dibagi-bagi antara keempat operator jaringan yang ada di sana. Dua di antaranya, Orange dan One to One, beroperasi pada daerah GSM 1800, sementara dua yang lainnya, Vodafone dan Cellnet, telah dialokasikan kanal GSM 1800 pada puncak jaringan GSM 900 mereka. ARFCN ini diberi nomor 512 - 885. Porsi pada puncak band digunakan oleh DECTs (Digital Enhanced Cordless Telephony).
PCS 1900
PCS 1900 merupakan adaptasi GSM yang lain ke dalam band 1900MHz. Teknik ini digunakan di Amerika Serikat di mana FCC (Federal Communication Commission) telah membaginya menjadi 300 ARFCN dan mengumumkan lisensi pada berbagai macam operator untuk mengimplementasikan jaringan GSM. Pemisahan frekuensinya sebesar 80MHz, dan pembagian frekuensinya adalah 1850MHz - 1910MHz untuk uplink dan 1930MHz - 1990MHz untuk downlink.

Teknik Modulasi dan Bandwidth
Teknik modulasi yang digunakan pada GSM adalah GMSK (Gaussian Minimum Shift Keying). Teknik ini bekerja dengan melewatkan data yang akan dimodulasikan melalui Filter Gaussian. Filter ini menghilangkan sinyal-sinyal harmonik dari gelombang pulsa data dan menghasilkan bentuk yang lebih bulat pada ujung-ujungnya. Jika hasil ini diaplikasikan pada modulator fasa, hasil yang didapat adalah bentuk envelope yang termodifikasi (ada sinyal pembawa). Bandwidth envelope ini lebih sempit dibandingkan dengan data yang tidak dilewatkan pada filter gaussian.
Bandwidth yang dialokasikan untuk tiap frekuensi pembawa pada GSM adalah sebesar 200kHz. Pada kenyataannya, bandwidth sinyal tersebut lebih besar dari 200kHz, bahkan setelah dilakukan pemfilteran gaussian pun hal itu tetap terjadi. Akibatnya sinyal akan memasuki kanal-kanal di sebelahnya. Jika pada satu sel (akan dijelaskan kemudian) terdapat BTS dengan frekuensi pembawa yang sama atau bersebelahan kanal, maka akan terjadi interferensi akibat overlapping tersebut. Begitu juga jika sel-sel yang bersebelahan memiliki frekuensi pembawa sama atau berdekatan. Alasan inilah yang menyebabkan mengapa dalam satu sel atau antara sel-sel yang berdekatan tidak boleh menggunakan kanal yang sama atau berdekatan.

Pembagian Sel

Pembagian area dalam kumpulan sel-sel merupakan prinsip penting GSM sebagai sistem telekomunikasi selular. Sel-sel tersebut dimodelkan sebagai bentuk heksagonal seperti pada gambar berikut. Tiap sel mengacu pada satu frekuensi pembawa / kanal / ARFCN tertentu. Pada kenyataannya jumlah kanal yang dialokasikan terbatas, sementara jumlah sel bisa saja berjumlah sangat banyak. Untuk memenuhi hal ini, dilakukan teknik pengulangan frekuensi (frequency re-use). Pada gambar terlihat contoh frequency re-use dengan jumlah kanal 7 buah. Antara sel-sel yang berdekatan frekuensi yang digunakan tidak boleh bersebelahan kanal atau bahkan sama.
Jelas bahwa semakin besar jumlah himpunan kanal, semakin sedikit jumlah kanal tersedia per sel dan oleh karenanya kapasitas sistem menurun. Namun, peningkatan jumlah himpunan kanal menyebabkan jarak antara sel yang berdekatan kanal semakin jauh, dan ini mengurangi resiko terjadi interferensi. Sekali lagi, desain sistem GSM memerlukan kompromi antara kualitas dan kapasitas.
Pada kenyataannya, model satu sel dengan satu kanal transceiver (TRx, tentunya menggunakan antena omni-directional) jarang digunakan. Untuk lebih meningkatkan kapasitas dan kualitas, desainer melakukan teknik sektorisasi. Prinsip dasar sektorisasi ini adalah membagi sel menjadi beberapa bagian (biasanya 3 atau 6 bagian; dikenal dengan sektorisasi 120o atau 30o). Tiap bagian ini kemudian menjadi sebuah BTS (Base Transceiver Station). Kebanyakan vendor memperbolehkan sampai dengan 4 TRx per BTS untuk sektorisasi 120o. Jika digunakan TDMA pada TRx, menghasilkan 8 kanal TDMA tiap TRx, Anda bisa menghitung bahwa dalam satu sel dapat menampung trafik yang setara dengan 3 X 4 X 8 = 96 kanal TDMA atau sebesar 82,42 erlang dengan GoS 2%. (Erlang merupakan satuan trafik dan GoS(Grade of Service) menyatakan derajat keandalan layanan, berapa jumlah blocking yang terjadi terhadap panggilan total)
Pada prakteknya tidak semua kanal TDMA tersebut bisa digunakan untuk kanal pembicaraan (TCH = Traffic Channel). Dalam sebuah BTS juga diperlukan SDCCH (Stand-alone Dedicated Control Channel) yang digunakan untuk call setup dan location updating serta BCCH (Broadcast Control Channel) yang merupakan kanal downlink yang memberikan informasi dari BTS ke MS mengenai jaringan, sel yang kedatangan panggilan, dan sel-sel di sekitarnya.

Struktur Sistem Selular
Bagian paling rendah dari sistem GSM adalah MS (Mobile Station). Bagian ini berada pada tingkat pelanggan dan portable. Pada tiap sel terdapat BTS (Base Transceiver Station). BTS ini fungsinya sebagai stasiun penghubung dengan MS. Jadi, merupakan sistem yang langsung berhubungan dengan handphone Anda.
BTS pada dasarnya hanya merupakan "pesuruh" saja. Otak yang mengatur lalu-lintas trafik di BTS adalah BSC (Base Station Controller). Location Updating, penentuan BTS dan proses handover pada percakapan ditentukan oleh BSC ini. Beberapa BTS pada satu region diatur oleh sebuah BSC.
BSC-BSC ini dihubungkan dengan MSC (Mobile Switching Center). MSC merupakan pusat penyambungan yang mengatur jalur hubungan antar BSC maupun antara BSC dan jenis layanan telekomunikasi lain (PSTN, operator GSM lain, AMPS, dll).Saat ini teknik switching terus berkembang, dan begitu pula pada layanan GSM. Beberapa operator GSM di Indonesia telah menerapkan Intelegent Network lanjutan dalam teknik switchingnya.

Frequency Hopping
Frequency hopping merupakan fitur yang diterapkan pada interface udara, yakni lintasan radio ke MS. Teknik ini dapat mengurangi redaman akibat efek multipath fading. GSM hanya merekomendasikan satu jenis frequency hopping, yakni baseband hopping. Namun beberapa vendor, seperti Motorola, menyediakan tipe frequency hopping yang lain, yang disebut Synthesizer Hopping.
Baseband Hopping digunakan jika base station memiliki beberapa DRCU/TCU tersedia. Aliran data secara sederhana dilalukan pada frekuensi dasar ke berbagai macam DRCU/TCU. Setiap data beroperasi pada frekuensi yang tetap, mengacu pada urutan hopping yang ditentukan. DRCU/TCU yang berbeda akan menerima sebuah timeslot yang spesifik pada setiap frame TDMA, berisi informasi yang ditujukan kepada MS-MS yang berbeda.
Synthesizer Hopping menggunakan kelincahan ferkuensi dari DRCU/TCU untuk mengubah frekuensi-frekuensi pada sebuah basis timeslot untuk transmisi maupun menerima. SCB pada DRCU serta sistem kontrol dan pemrosesan digital pada TCU akan menghitung dan menentukan frekuensi selanjutnya, dan memprogram sebuah pasangan synthesizer Tx dan Rx untuk menuju ke frekuensi yang telah dihitung.
Teknik synthesizer hopping ini sangat baik untuk diterapkan pada sel-sel dengan jumlah carrier yang sedikit. Untuk sel-sel dengan jumlah carrier yang banyak, teknik baseband hopping merupakan teknik yang paling baik. Dan kedua teknik ini tidak bisa diterapkan sekaligus pada sebuah site BTS.

GPRS MENUJU ERA MOBILE DATA
Setelah komunikasi suara dapat dilakukan secara mobile, sebagian orang mulai melirik pada komunikasi data dan berpikir mengapa komunikasi data tidak dikembangkan juga agar memiliki kemampuan mobile. Sampai saat ini telah banyak teknologi komunikasi data yang dikembangkan dan menjadi standar untuk komunikasi mobile data. Tetapi teknologi tidak berhenti sampai disini. Setelah mampu melakukan komunikasi data secara mobile, mulai lagi orang berpikir bagaimana agar komunikasi tersebut dapat dilakukan dengan kecepatan yang tinggi dan mampu melewatkan berbagai aplikasi yang ada seperti Internet dan akses ke Intranet.
General Packet Radio Service (GPRS) merupakan teknologi komunikasi data berbasis paket switch yang dikembangkan pada jaringan GSM. GPRS menawarkan komunikasi data secara mobile, dimana pemakai dapat melakukan pengiriman dan penerimaan data setiap saat dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Faktor dominan ini terletak pada kecepatan pengiriman data yang mencapai 155 kbps dan biaya komunikasi data yang relatif lebih kecil.
GPRS mendukung protokol komunikasi data terbesar di dunia yaitu Internet Protocol (IP) dan X.25. Pada kasus ini GPRS bertindak seolah-olah sebagai jaringan ekstension dari jaringan IP dan X.25 yang ada, sehingga berbagai aplikasi di atas jaringan-jaringan tersebut tentu saja dapat diakses juga melalui GPRS.
Dibandingkan dengan aplikasi komunikasi data saat ini yang lebih berorientasi pada text seperti email, akses database dan Internet, GPRS menawarkan komunikasi multimedia termasuk suara, grafik dan video conference.
Karakteristik paket data GPRS
Paket data pada GPRS menjadi begitu penting karena menyediakan koneksi yang cepat dan tidak kelihatan (seamless) antara terminal mobile dan Internet atau Corporate Intranet. Seluruh aplikasi Internet seperti email dan web browsing dapat dilakukan tanpa harus mendial hubungan ke Internet service provider (ISP). Disamping itu paket data GPRS menggunakan radio link secara lebih effisien, dimana sejumlah pemakai dapat menggunakan kanal yang sama secara simultan. Pada mode circuit data, setiap pemakai memegang satu kanal selama koneksi ke jaringan baik pada saat pengiriman data maupun tidak (idle time), sehingga selain in-effisiensi dalam penggunaan radio link, pemakai juga dibebani biaya yang lebih tinggi dengan perhitungan berdasarkan lama waktu koneksi. Dengan paket data seperti GPRS, pemakai hanya dikenai biaya berdasarkan jumlah/volume data yang ditransmisikan selama komunikasi dan tidak termasuk idle time, meskipun pada kenyataannya setiap pemakai paket data GPRS terhubung secara virtual ke jaringan setiap saat.
Teknologi paket data seperti GPRS dapat digunakan pada seluruh aplikasi komunikasi data, tetapi pada dasarnya paket data ini lebih sesuai untuk aplikasi dengan karakteristik frekuensi penggunaan yang tinggi, komunikasi pendek dan bersifat real time seperti email. Walaupun demikian paket data juga dapat digunakan untuk aplikasi dengan volume data besar seperti file transfer.

Detail GPRS
Konfigurasi sistem GPRS merupakan gabungan antara sistem GSM yang telah ada dan telah diupgrade baik secara software maupun hardware dengan jaringan GPRS sendiri. Jaringan GPRS terdiri dari Serving GPRS Support Node (SGSN) yaitu node di dalam infrastruktur GSM yang mengirim dan menerima data dari terminal mobile dan Gateway GPRS Support Node (GGSN) yang memiliki link ke jaringan lain seperti Internet, X.25 atau jaringan private. GPRS dapat menggunakan beberapa serving node SGSN tetapi hanya membutuhkan satu node gateway GGSN sebagai interface ke jaringan eksternal. Point to Multipoint Service Centre merupakan bagian dari standard GPRS selanjutnya, dimana GPRS akan memiliki kemampuan komunikasi point to multipoint.




Gambar 1. Konfigurasi sistem GPRS
Keterangan gambar :
Bulat Hijau : Upgrade SW dan HW
Kotak merah : GSM yang ada
Kotak HIjau : Sub sistem baru
Garis sambung : Trafik dan signalling
Garis putus : Signalling
SGSN : Serving GPRS Support Node
GGSN : Gateway GPRS Support Node
BSC : Base Station Controller
BTS : Base Transceiver Station
MSC : Mobile Switching Centre
HLR : Home Location Register
MS : Mobile Station
Pada sistem GPRS, terminal mobile user baik berupa GPRS phone maupun laptop dengan modem GPRS akan melakukan komunikasi ke base station GSM. Kemudian data-data yang dikirimkan oleh user akan diteruskan oleh base station ke SSGN, tidak seperti pada komunikasi data circuit switch dimana data akan diteruskan oleh base station ke MSC. SGSN selanjutnya akan melakukan komunikasi dengan GGSN yang merupakan interface ke jaringan eksternal. Sebelum ditransmisikan melalui jaringan eksternal, paket data tadi akan dikonversikan terlebih dahulu.
Sebaliknya paket IP atau X.25 yang ditujukan ke user mobile akan diterima oleh GGSN dan diteruskan ke SGSN untuk ditransmisikan ke mobile station. Paket ini pun akan mengalami enkapsulasi di SGSN dan GGSN dengan menggunakan protokol GPRS yang disebut GPRS Tunnel Protocol (GTP). Dalam stack protokol, GTP terletak di atas TCP/IP.
Selain berfungsi dalam transmisi paket data, SGSN juga berfungsi mengikuti jejak terminal mobile atau user mobile di dalam service areanya. SGSN akan melakukan asosiasi dengan MSC/VLR dan HLR untuk kepentingan tersebut.
Terminal GPRS
GPRS menggunakan protokol jaringan yang standard sehingga setting konfigurasi komputer untuk akses GPRS dapat dilakukan dengan mudah. Stack protokol TCP/IP pada jaringan IP eksisting dapat tetap digunakan dengan beberapa pengembangan untuk memperoleh berbagai kelebihan yang ditawarkan GPRS. Beberapa pabrikan seperti Intel, Ericsson, Nokia, IBM dan Toshiba sedang mengembangkan konektor yang menggunakan radio link sebagai pengganti koneksi kabel ke cellphone, sesuai dengan spesifikasi GPRS.
Akses ke sistem GPRS dapat dilakukan dengan terminal:
a. Laptop atau handhelp komputer: melalui PC Card modem dan cellphones/external modem yang memiliki kemampuan ke GPRS
b. Smart phone yang dilengkapi full screen (seperti Nokia 9000)
c. Cellphone dengan Wireless Application Protocol
d. Perangkat yang dirancang khusus untuk GPRS
Virtual private network melalui GPRS
Pada awal pengembangan intranet, perusahaan konvensional menggunakan modem pool di sisi server dan modem dial up di sisi pemakai untuk menyediakan remote access bagi para pekerjanya yang hendak melakukan hubungan ke intranet corporate dari jarak jauh. Kemunculan Internet di hampir seluruh belahan dunia memberikan alternatif baru bagi perusahaan dalam menyediakan remote access. Melalui Internet para pekerja yang berada di luar daerah intranet perusahaan tidak perlu melakukan SLJJ ke intranet perusahaan, tetapi cukup dengan mendial ISP lokal. Cara ini lebih efektif karena sejumlah besar aplikasi berada diatas jaringan IP. Dari sisi biaya juga akan lebih effisien karena perusahaan hanya membayar untuk sambungan lokal dan sewa ISP lokal dibanding pengeluaran untuk SLJJ.
Koneksi melalui Internet memiliki keterbatasan pada security-nya sehingga muncullah Virtual Private Network (VPN). VPN merupakan jaringan private di atas jaringan publik. Untuk membangun VPN digunakan software khusus di setiap end point yaitu di remote user dan intranet corporate. Software ini akan membangun tunnel secara virtual dan setiap informasi yang dilewatkan pada tunnel ini akan dienkripsi terlebih dahulu.
Produk VPN yang dikembangan dan dipasarkan oleh berbagai pabrikan, pada umumnya menggunakan koneksi dial up, ethernet, ISDN maupun wireless. Kini GPRS memberikan alternatif baru yaitu koneksi melalui GPRS. Dengan GPRS remote user tidak perlu mendial hubungan circuit switch ke ISP dan membangun VPN karena koneksi Internet dapat diperluas hingga ke terminal mobile user. User pun tidak perlu mendial ISP yang berbeda jika sedang traveling. Dengan demikian remote user dapat lebih mudah mengakses intranet corporate dan tetap dapat mempertahankan hubungan tersebut selama mungkin.
Keunggulan GPRS
Keunggulan dan kemudahan teknologi paket data GPRS dapat dirasakan secara lebih nyata oleh pemakainya. Untuk memperoleh koneksi ke jaringan melalui GPRS, pemakai melakukan langkah-langkah yang sama seperti pada saat akan melakukan koneksi ke jaringan LAN. Apabila terminal mobile user telah memperoleh koneksi ke jaringan, pengiriman dan penerimaan data dapat dilakukan saat itu juga. Pemakai dapat bekerja dengan komputer-nya tanpa memikirkan koneksi ke jaringan dan secara otomatis akan menerima email. Lebih dramatis lagi, user bahkan dapat tetap menerima telepon atau mengirim panggilan telepon selama mengakses data melalui GPRS.
Delay pengiriman data pada GPRS sangat kecil sehingga sesuai untuk aplikasi email, akses intranet, pengiriman barang dll. Disamping itu throughput yang tinggi pada GPRS memungkinkannya untuk digunakan pada aplikasi multimedia seperti apliksai web browsing dengan grafik.
Jika dikompulir maka keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh pemakai melalui paket data GPRS antara lain :
• Access time yang lebih cepat yaitu <1 detik (access time circuit switch dan SMS 3 detik)
• Kecepatan data yang lebih tinggi mencapai 115 Kbps
• Akses global di seluruh jaringan GSM
• Dapat tetap terhubung ke jaringan untuk kurun waktu yang cukup panjang (tetap on line)
• Memperoleh berbagai service dan aplikasi dengan biaya rendah
• Pembayaran hanya untuk volume data yang dikirimkan.
Disamping itu GPRS juga memberikan keuntungan-keuntungan di sisi operator antara lain :
• Optimalisasi penggunaan jaringan radio
• Biaya investasi yang rendah
• Pemasukan tambahan dengan layanan paket data
• Mencakup area yang luas secara cepat
• Dapat memasuki berbagai segmen pasar

Aplikasi GPRS
Sistem GPRS tidak hanya diaplikasikan untuk mengakses Internet atau intranet perusahaan melalui remote access, tetapi juga dapat digunakan untuk berbagai aplikasi sebagai berikut :
• Automatic Teller Machine (ATM) dan Automatic Ticket
• Taxi dan parcel services.
• Vehicle tracking
• Manajemen lalu lintas seperti menajemen lampu lalu lintas
• Layanan On-line
• Medical emergency operations
• Sistem alarm dan monitoring
Pengembangan mobile data GSM
Awal pengembangan GSM data adalah meningkatkan kecepatan circuit switch data eksisting dari 9,6 kbps menjadi 14,4 kbps. Sebelum GPRS, dikembangkan High-speed circuit-switched data service (HSCSD) yang memungkinkan penggunaan beberapa kanal suara sekaligus untuk memperoleh kecepatan data yang lebih tinggi. Kecepatan data pada HSCSD mencapai 38,4 kbps.

Timeframe Kemampuan Keterangan
9.6 kbps Tersedia saat ini Fax dan komunikasi data circuit switch Pada umumnya ditawarkan oleh operator GSM
14.4 kbps Tersedia dalam kurun 12 bulan mendatang Fax dan komunikasi data circuit switch kecepatan tinggi Identik dengan layanan 9.6 kbps tetapi dengan kecepatan yang lebih tinggi
Direct IP Akses tersedia saat ini Koneksi circuit switch langsung ke Internet Reduksi call set-up time. Dikembangkan juga untuk layanan data circuit switch kecepatan tinggi dan migrasi ke paket data
High-speed circuit-switched data service (HSCSD) Tersedia tahun ini Kecepatan mencapai 56 kbps Memerlukan Up grade software. Operator perlu memutuskan sejak awal apakah akan menawarkan service ini, GPRS atau kedua-duanya
GPRS Tersedia dalam 2 tahun mendatang Packet data dengan kecepatan diatas 100 Kbps. Komunikasi mobile data secara fleksibel
EDGE Tersedia dalam 3 tahun mendatang Paket data dengan kecepatan kurang lebih 3 kali kecepatan data GPRS Merupakan final teknologi data kecepatan tinggi untuk jaringan GSM eksisting. Dapat digunakan bersama jaringan TDMA IS-136.
Seluler Generasi 3 Tersedia dalam 3-5 tahun mendatang Paket data dengan kecepatan 2 Mbps New airlink
Tabel 1. Arah pengembangan Data GSM (sumber : Rysavy Research)

Standard GPRS dikembangkan oleh beberapa vendor GSM seperti Alcatel, Ericsson, Lucent, Motorola, Nokia, Nortel dan Siemens. Pada standars berikutnya dikembangkan feature baru yaitu kemampuan komunikasi point-to-multipoint. GPRS akan diluncurkan untuk field trial pada tahun 1999 dan penggunaan secara meluas pada tahun 2000. Standard GPRS diprioritaskan pada IP service walaupun standard tersebut dibuat untuk IP dan X.25.
Hingga saat ini belum ada operator yang mengumumkan pengembangan ke service GPRS, tetapi hal ini sangat mungkin berubah karena biaya pengembangan infrastruktur ke service GPRS relatif kecil. Bahkan saat ini belum ada cellphone atau modem yang mendukung service GPRS tetapi dapat dipastikan bahwa seluruh telepon GSM model terbaru akan memiliki kemampuan GPRS.
Pada kerangka standard GSM telah didefinisikan teknologi jaringan data di atas GPRS yang disebut Enhanced Data for GSM Evaluation. EDGE akan menawarkan kecepatan maksimum 384 kbps, dan setelah EDGE akan muncul generasi ketiga sistem cellular yang akan memiliki kemampuan pengiriman data hingga 2 Mbps.


Global Aplication Protocol
GPRS kompetitor WAP sepertinya perkembangan teknologi telekominikasi tidak akan pernah berhenti. Belum lagi teknologi WAP (wireless Application Protocol) yang masih terdengar asing oleh masyarakat Indonesia, sekarang sudah datang lagi teknologi lanjutaan GSM (Global System Mobile) yaitu GPRS (General PAcket Radio Service).
GPRS merupakan satu lanjutan GSM dengan penyediaan transmisi data mutakhir, dengan kecepatan empat kali lebih cepat dari GSM yang ada sekarang. Teknologi ini memungkinkan pelanggan telepon selular dapat mengakses data bergerak secara scepat melalui jaringan internet.
GSM merupakan selular digital generasi ke dua setelah analog yang di Indonesia dikenal dengan Nordic Mobile Telephon (NMT) dan Advance Mobile Phone System (AMPS) sebagai generasi pertama. Saat ini kemampuan GSM baru mencapai tingkat Wireless Application Protocol (WAP), yaitu kemampuan akses internet dari ponsel jenis tertentu (WAP Enable). Begitu juga pemilik ponsel yang ingin mengakses GPRS harus menggantinya dengan HP GPRS Enable.
Sedangkan beberapa ponsel yang bisa digunakan untuk WAP akan mudah mendapatkan kemampuan GPRS dengan menambahkan modul. GPRS sendiri saat ini disebut-sebut sebagai selular generasi 2+ yang merupakan jembatan sebelum memasuki generasi ketiga (3G) yang akan menawarkan akses multimedia kepada penggunanya. Bila nanti 3G digunakan, bukan hanya suara dan data saja yang bisa ditampilkan di ponsel, tetapi juga gambar.
Aplikasi teknologi GPRS antara lain dapat mengakses secara cepat internet mobile, layanan WAP seperti belanja di WAP mall, informasi petunjuk perjalanan, aplikasi transaksi bank, informasi restoran dan banyak aplikasi lainnya. Riset dari Siemens menunjukkan bahwa telepon selular GPRS di masa mendatang akan semakin kecil bentuknya, namun justru memiliki layar yang lebar.